Masyarakat Indonesia Masa Praaksara Bagian Dua

indonesia praaksara bagian dua

Masyarakat Indonesia Masa Praaksara Bagian Dua

D. CORAK KEHIDUPAN MASA PRAAKSARA Indonesia Praaksara Bagian Dua

Berdasarkan benda-benda hasil kebudayaannya, Masa Praaksara dapat kita bagi menjadi beberapa periode, yaitu Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum dan Zaman Logam. Baca artikel sebelumnya!

Paleolitikum atau Zaman Batu Tua merupakan periode awal dalam kehidupan manusia praaksara Ciri-ciri benda hasil kebudayaannya adalah alat batunya masih kasar, belum dihaluskan di sebagian atau kedua sisinya. Benda-benda hasil kebudayaan Paleolitikum ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  • kebudayaan Ngandong, antara lain berupa serpih batu atau flakes yang banyak ditemukan di daerah Ngandong, Jawa Tengah;

     Indonesia Praaksara bagian dua
    Indonesia Praaksara bagian dua Serpih batu atau flakes
  • kebudayaan Pacitan, antara lain berupa kapak genggam, kapak perimbas, alat penetak, dan alat serpih.

    Indonesia Praaksara bagian dua
    Indonesia Praaksara bagian dua Kapak Genggam.

Kemudian Mesolitikum atau Zaman Batu Menengah. Ciri-cirinya adalah alat batunya sudah mulai dihaluskan pada sebagian atau kedua sisinya. Salah satu hasil kebudayaannya adalah kapak genggam Sumatra yang banyak ditemukan di pantai timur Sumatra (Lhokseumawe, Langsa, dan Binjai [Tamiang]). Selain itu, ada alat serpih yang ditemukan di NTT dan Sulawesi Selatan. Baca artikel sebelumnya!

Lalu Neolitikum atau Zaman Batu Muda. Ciri-cirinya adalah alat batunya sudah mulai dihaluskan pada kedua sisi benda. Hasil kebudayaannya berupa kapak lonjong yang banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Kapak lonjong banyak digunakan upacara ritual dan perkakas sehari-hari. Ada juga kapak lonjong yang ditemukan di Papua. Kapak lonjong berukuran besar disebut walzenbeil dan kapak lonjong berukuran kecil disebut kleinbeil.

Selain kapak lonjong, terdapat kapak persegi yang penemuannya meliputi hampir di seluruh Kepulauan Indonesia. Fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi, yaitu sebagai alat pertanian, alat upacara, dan alat barter.

Indonesia Praaksara bagian dua
Indonesia Praaksara bagian dua. Kapak persegi
Indonesia Praaksara bagian dua
Indonesia Praaksara bagian dua. Kapak lonjong.

Dan yang terakhir, Zaman Logam. Indonesia Praaksara Bagian Dua

Manusia praaksara sudah dapat membuat benda- benda dari logam. Kebudayaan logam yang berkembang di Nusantara adalah logam perunggu. Kebudayaan logam perunggu ini dipengaruhi oleh kebudayaan Dong Son yang berkembang di Vietnam. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kemiripan benda-benda logam di Nusantara dengan di daerah Dong Son. Misalnya, candrasa, nekara, moko, bejana perunggu, mata panah, dan tombak. Mereka sudah mengenal teknik pembuatan benda dari logam, yaitu bivalve dan a cire perdue.

  • Bivalve (teknik dua setangkup)
    Teknik ini menggunakan dua cetakan yang dapat ditangkupkan. Cetakan diberi lubang pada bagian atasnya untuk tempat menuangkan cairan logam. Jika perunggu sudah dingin, cetakan di bagian atasnya kemudian dibuka. Cetakan ini dapat digunakan berkali-kali.
  • A cire perdue (teknik cetak tuang)

    Berikut langkah-langkah membuat benda logam dengan teknik cetak tuang.

    pertama:  Teknik ini diawali dengan pembuatan model dari lilin yang dilapisi tanah liat. Bagian atas dan bawah model diberi lubang.
    kedua: Setelah mengeras, tanah liat kemudian dipanaskan dengan api sehingga lilin mencair keluar melalui lubang di bagian bawah.
    ketiga: Dari lubang atas, dituangkan cairan perunggu. Jika perunggu yang dituangkan sudah dingin, cetakan tanah liat tersebut dipecah untuk mengambil benda yang sudah jadi. Cetakan ini hanya bisa digunakan satu kali.

indonesia praaksara bagian dua
indonesia praaksara bagian dua

Nekara (kanan) dan Moko (kiri), contoh hasil karya Zaman Logam

Terdapat zaman yang tidak dapat dimasukkan ke dalam periodisasi Masa Praaksara Indonesia, yaitu Megalitikum atau Zaman Batu Besar. Hal ini karena corak kebudayaannya ada di hampir setiap Masa Praaksara di Indonesia.

Kehidupan manusia praaksara semakin lama semakin kompleks, termasuk dalam bidang kepercayaan. Ketergantungan terhadap alam membuat mereka percaya adanya kekuatan gaib di sekelilingnya. Oleh karena itu, berkembanglah animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan yang meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, baik benda hidup maupun mati, memiliki roh. Roh-roh tersebut harus dihormati dengan cara dipuja atau diberi sajen. Adapun dinamisme adalah kepercayaan yang meyakini benda-benda di sekitar manusia memiliki kekuatan gaib (mana) yang mampu memberi manfaat maupun marabahaya bagi manusia.

Sebagai sarana dalam melaksanakan ritual kepercayaan mereka, manusia praaksara membuat benda-benda yang akan digunakan dalam ritual. Benda-benda tersebut terbuat dari batu-batuan berukuran besar sehingga dikenal dengan Megalitikum. Benda-benda hasil kebudayaan megalitik adalah sebagai berikut.

  1. Dolmen atau meja sesajen.
  2. Menhir atau tugu pemujaan.
  3. Punden berundak berupa titian tangga menuju puncak tempat sesajen.
  4. Sarkofagus atau kubur batu.
  5. Waruga (kubur batu dari daerah Minahasa, Sulawesi).

Berdasarkan mata pencarian manusia praaksara, kita dapat membagi periodisasi kehidupan praaksara menjadi Masa Berburu dan Meramu, Masa Bercocok Tanam Tingkat Awal, dan Masa Bercocok Tanam Tingkat Lanjut.

Indonesia Praaksara bagian dua
Indonesia Praaksara bagian dua

Masa Berburu dan Meramu

Pada Masa Berburu dan Meramu, manusia praaksara masih bergantung pada alam. Mereka mencari makanan dengan cara berburu ataupun mengumpulkan makanan. Oleh sebab itu, mereka masih berpindah-pindah tempat tinggal (nomaden) mencari daerah yang kaya sumber bahan makanan. Mereka menetap di gua-gua terbuka (abris sous rouche) yang dekat dengan sumber mata air. Pembagian kerja sudah diatur secara sederhana. Kaum laki-laki berburu dan perempuan memasak. Mereka juga mengenal pemimpin kelompok yang dipilih berdasarkan kekuatan fisiknya. Di dalam gua tempat tinggal mereka, ditemukan lukisan gua yang menjadi simbol religi dan seni. Ada juga tumpukan sampah dapur (kjokkenmoddinger) berupa kulit kerang yang sudah membatu. Baca artikel sebelumnya!

Indonesia Praaksara bagian dua
Indonesia Praaksara bagian dua. Gua hunian tempat Homo floresiensis tinggal.
indonesia praaksara bagian dua
Lukisan praaksara di Gua Leang-Leang, Maros, Sulawesi Selatan.

Masa Bercocok Tanam Tingkat Awal

Masa Bercocok Tanam Tingkat Awal ditandai dengan adanya perubahan sistem mata pencarian dari berburu menjadi berhuma. Ketergantungan mereka terhadap alam sudah mulai berkurang. Mereka sudah dapat mengolah tanah dengan berhuma atau ladang berpindah. Mereka membuka hutan menjadi lahan perkebunan. Apabila sudah panen dan tanahnya tidak subur lagi, mereka akan meninggalkan lokasi tersebut. Dengan demikian, pola kehidupannya sudah semisedenter atau menetap untuk jangka waktu sementara. Biasanya, mereka membuat rumah panggung sebagai tempat tinggalnya. Rumah panggung dibuat untuk menghindari hewan buas yang berkeliaran.

Sistem kepercayaan animisme dan dinamisme pun semakin berkembang. Mereka mengenal shaman atau dukun yang akan memimpin upacara ritual. Baca artikel sebelumnya!

Masa Bercocok Tanam Tingkat Lanjut Indonesia Praaksara Bagian Dua

Pada Masa Bercocok Tanam Tingkat Lanjut, manusia praaksara sudah dapat bersawah. Mereka sudah mengenal astronomi, menggunakan rasi bintang untuk menentukan musim panen dan musim tanam. Kegiatan perekonomian mereka pun bertambah dengan adanya perdagangan menggunakan sistem barter. Pemimpin kelompok tidak agi dipilih hanya berdasarkan kekuatan fisik, tetapi juga berdasarkan tingkat kecerdasan dan keahliannyanya. Dengan demikian, di dalam masyarakat, sudah ada pembagian kerja yang lebih kompleks.

Masa Perundagian Indonesia Praaksara Bagian Dua

Undagi berarti ‘terampil’. Pada masa ini muncul golongan yang terampil melakukan suatu jenis usaha, seperti membuat peralatan logam, kayu, gerabah, dan perhiasan. Namun, golongan undagi lebih mengacu kepada orang-orang yang terampil membuat peralatan logam. Tidak semua orang mampu membuat alat-alat tersebut. Oleh karena itu, dikenalnya logam menandai Masa Perundagian. Pada masa ini, masyarakat Nusantara sudah hidup secara menetap. Tata kehidupan sudah semakin teratur dan terpimpin. Perdagangan antarpulau telah berlangsung yang dilakukan dengan sistem barter. Baca artikel sebelumnya!

Indonesia Praaksara bagian dua
Kegiatan bercocok tanam masih dilakukan oleh masyarakat Nusantara hingga saat ini. Kemampuan bercocok tanam ini dipercaya dibawa oleh bangsa Yunan (Tiongkok) dan Vietnam ke Nusantara pada 1500 SM.

E. ASAL USUL NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia masih belum dapat dipastikan. Banyak teori yang menyatakan asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari wilayah-wilayah tertentu di sekitar Indonesia. Teori-teori tersebut juga didukung oleh bukti yang dikemukakan para ahli. Berikut adalah beberapa teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yang dikemukakan para ahli.

  1. Teori Out of Afrika
    Teori ini memandang Homo sapiens berasal dari satu tempat di Afrika. Sekitar 100.000-70.000 tahun lalu, manusia modern ini mulai meninggalkan Benua Afrika dan menyebar atau bermigrasi ke berbagai daerah di dunia.
    Salah satu kelompok migrasi Homo sapiens tersebut sampai ke Indonesia kemudian berlanjut ke Australia. Di Indonesia, fosil Manusia Wajak (Homo wajakensis) merupakan spesimen tertua Homo sapiens yang pernah ditemukan, sekitar 40.000-6.500 tahun lalu. Hal tersebut menandakan wilayah Nusantara telah dihuni oleh manusia modern awal pada kurun waktu tersebut.
    Berdasarkan hasil penelitian arkeologis, gelombang migrasi Homo sapiens awal yang datang dari Afrika masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan pada 60.000 tahun yang lalu. Ras yang sekarang disebut Melanesia dan menjadi nenek moyang sebagian masyarakat Indonesia bagian timur.
    Selanjutnya, kembali terjadi migrasi manusia ke kepulauan Nusantara dari Asia Selatan yang kemudian berdiaspora ke berbagai arah, termasuk Indonesia. Manusia tersebut bercirikan ras Austalomelanesoid—sekarang lebih dikenal sebagai populasi Melanesia, mengelompok di kawasan Indonesia Timur.
  2. Teori Out of Yunnan

    Teori ini mengemukakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, sebuah provinsi di sebelah barat daya Tiongkok. Moh. Ali, R.H. Geldern, J.H.C. Kern, dan Slamet Muljana adalah pendukung dari teori ini yang didasari oleh dua hal, kemiripan kapak tua di wilayah Asia Tengah dengan di Nusantara, dan kemiripan bahasa Champa di Kamboja dengan bahasa Melayu di Nusantara. Manusia dari Yunnan diyakini bermigrasi menyusuri Sungai Mekong yang kemudian menyeberang ke berbagai daerah, salah satunya adalah Nusantara.
    Ada tiga gelombang migrasi manusia dari Yunnan ke Indonesia, yaitu sebagai berikut.
    Pertama: Bangsa Negrito pada 10.000 tahun yang lalu. Mereka diyakini sebagai keturunan Proto-Australoid yang berpindah dari sekitar Laut Tengah dan tinggal di India. Ketika bangsa Dravida datang, mereka menyingkir ke timur (Tiongkok), kemudian menyebar ke berbagai daerah, salah satunya Nusantara.
    Kedua: Bangsa Proto-Melayu masuk ke wilayah Nusantara melalui dua jalan, yaitu jalur barat (melalui Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan selanjutnya tersebar ke seluruh Nusantara) dan jalur timur (melalui Filipina terus ke Sulawesi aan selanjutnya tersebar ke seluruh Nusantara. Kedatangan bangsa Proto-Melayu ini diperkirakan terjadi pada 1500 SM. Mereka membawa kebudayaan baru bercocok tanam dan keterampilan dalam membuat kapak yang sudah halus.
    Ketiga: Bangsa Deutro-Melayu diperkirakan memasuki wilayah Nusantara diperkirakan sejak 300 SM. Mereka masuk ke wilayah Nusantara melalui jalur barat, yaitu melalui daerah Semenanjung Malaya terus ke Sumatra dan seluruh wilayah Nusantara. Mereka diyakini berasal dari Ddng Son, Vietnam, dikenal sebagai pelaut-pelaut andal serta membawa keahlian membuat barang dari perunggu—Nusantara kemudian memasuki Masa Perundagian. Baca artikel sebelumnya!

  3. Teori Nusantara

    Menurut teori ini, bangsa Indonesia berasal dari wilayah Indonesia sendiri, bukan dari daerah lainnya. Teori ini dikemukakan oleh ‘.’„hammad Yamin. Menurutnya, penemuan fosil dan artefak lebih canyak dan lebih lengkap di Indonesia daripada daerah lainnya di Asia. Kemungkinan justru bangsa Indonesialah yang menyebar ke uar wilayahnya, menjadi nenek moyang di daerah lainnya.

F. PERSEBARAN NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Proses persebaran nenek moyang bangsa Indonesia dimulai pada Zaman Pleistosen, ketika terjadinya Zaman Es (Glasial). Hal tersebut mengakibatkan Kepulauan Indonesia bersatu dengan daratan Asia. Laut dengkal yang ada di antara pulau-pulau Indonesia bagian barat surut sehingga membentuk Paparan Sunda, menyatukan Indonesia bagian barat dengan daratan Asia. Sementara itu, di bagian timur, terbentuklah paparan Sahul yang menyatukan Indonesia bagian timur dengan Australia. Hal tersebut memungkinkan terjadinya perpindahan manusia dan hewan dari Asia ke Indonesia bagian barat dan sebaliknya. Begitu juga di bagian timur. memungkinkan perpindahan dari daratan Australia ke Indonesia bagian timur dan sebaliknya.

Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia terjadi secara bertahap. Berikut adalah tahapan kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia. Baca artikel sebelumnya!

  1. Proto-Melayu (Melayu Tua)

    Sekitar tahun 1500 SM, gelombang migrasi pertama bangsa Melayu Austronesia dari ras Mongoloid datang ke Nusantara. Mereka membawa peradaban batu ke Nusantara. Rombongan imigran ini dikenal juga bangsa Proto-Melayu (Melayu Tua). Gelombang migrasi ini datang dari Yunan dan bermigrasi di Indonesia melalui dua jalur, yakni jalur barat dan jalur timur.
    Pertama: Jalur barat, gelombang imigrasi datang dari Yunan menuju Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Flores.
    Kedua: Jalur timur, gelombang imigrasi datang dari Yunan melalui Vietnam, Taiwan, Filipina, Maluku, Halmahera, dan Papua.
    Ketiga: Keturunan Proto-Melayu adalah suku Dayak, Toraja, dan Batak.

  2. Deutero-Melayu (Melayu Muda) Indonesia Praaksara Bagian Dua 
    Sekitar tahun 300 SM gelombang migrasi kedua bangsa Melayu Austronesia tiba di Nusantara. Mereka lazim disebut bangsa Deutero-Melayu (Melayu Muda). Seperti halnya bangsa Proto-Melayu, mereka juga berasal dari Yunan. Mereka membawa peradaban logam (perunggu). Migrasi melalui jalur barat, yaitu Semenanjung Melayu— Sumatra—wilayah Indonesia. Bangsa Deutero-Melayu berkembang menjadi suku Melayu, Jawa, Sunda, dan Bugis.
  3. Weddoid
    Ras Weddoid datang ke Indonesia sebelum bangsa Proto-Melayu dan Deutero-Melayu. Mereka berkembang di Sumatra, Palembang, Jambi, Sulawesi Tenggara (Toala), dan Siak. Mereka datang pada Masa Paleolitikum akhir. Baca artikel sebelumnya!
  4. Papua Melanesoid
    Papua Melanesoid merupakan nenek moyang bangsa Papua dan Melanesia. Mereka berkembang menjadi suku Semang (Malaysia) dan suku Negrito (Filipina).

Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

A. PENGERTIAN PRAAKSARA Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Praaksara berasal dari kata pra yang artinya ‘sebelum’ dan aksara yang artinya ‘tulisan’. Dikenal sebagai suatu zaman ketika manusia belum -engenal tulisan. Praaksara memiliki kesamaan arti dengan kata bahasa Sanskerta, yakni nirleka. Nirleka berasal dari kata nir yang artinya ‘sebelum’ zan leka yang artinya ‘tulisan’.

B. PROSES TERBENTUKNYA KEPULAUAN INDONESIA

1. Bumi yang kita tempati sekarang telah mengalami proses evolusi jutaan tahun lamanya. Sebelumnya, bumi hanyalah sebuah tempat tanpa kehidupan. Berikut adalah periodisasi terbentuknya bumi hingga dihuni oleh berbagai makhluk hidup. Baca artikel sebelumnya!

    1. Masa Arkaikum atau Azoikum
      Bumi masih seperti bola panas dengan suhu yang sangat tinggi. Akibatnya, tidak ada kehidupan di bumi. Periode Arkaikum berlangsung sekitar 2,5 miliar tahun yang lampau.
    2. Masa Paleozoikum
      Suhu bumi sudah mulai turun, tetapi masih belum stabil dan berubah- ubah. Sudah terjadi curah hujan yang cukup tinggi.
      Hal tersebut memungkinkan munculnya kehidupan pertama di bumi dalam bentuk makhluk bersel satu, seperti mikroorganisme. Periode ini berlangsung sekitar 500-245 juta tahun yang lalu.
    3. Masa Mesozoikum
      Suhu bumi sudah semakin stabil. Flora dan fauna mulai muncul di bumi. Bahkan, makhluk-makhluk raksasa yang kita sebut dinosaurus pun bermunculan. Jenis makhluk yang muncul antara lain amfibi, mamalia, dan reptil. Periode ini terjadi berlangsung sekitar 245-65 juta tahun yang lalu.
    4. Masa Neozoikum.
      Masa Neozoikum merupakan periode yang luar biasa dalam proses evolusi bumi. Kehidupan di bumi semakin beragam dan makhluk-makhluk raksasa sudah semakin berkurang. Masa Neozoikum berlangsung sekitar 60 juta tahun yang lalu dan terbagi menjadi sebagai berikut. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

      1. Pleistosen (Diluvium)
        Zaman Pleistosen berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Pada masa ini, bumi mengalami pergantian kondisi muka bumi yang luar biasa. Ada Masa Glasial, yaitu masa ketika es di Kutub Utara mulai menutupi sebagian besar permukaan bumi. Permukaan laut menyusut karena air laut berubah menjadi es. Ada juga Masa Interglasial, yaitu masa ketika suhu bumi memanas yang menyebabkan es di daerah kutub dan permukaan bumi lainnya mencair dan permukaan laut kembali naik. Baca artikel sebelumnya!
      2. Holosen (Aluvium)
        Zaman Holosen ditandai dengan es di kutub yang sudah mencair dan meningkatnya permukaan laut dengan cepat. Makhluk-makhluk raksasa mengalami kepunahan. Di sisi lain, perubahan kondisi bumi ini memunculkan pulau-pulau baru, termasuk Kepulauan Indonesia. Pada masa ini pula, manusia muncul menggantikan kedudukan dinosaurus.
  1. Berdasarkan ilmu geologi, terbentuknya Kepulauan Indonesia disebabkan adanya pergeseran lempeng bumi akibat adanya gerakan tektonik di dalam bumi. Teori yang dikenal dengan sebutan teori lempeng tektonik menjelaskan proses terbentuknya Kepulauan Indonesia sudah dimulai sejak Masa Mesozoikum hingga Masa Pleistosen akhir.
  2. Pergerakan tektonik bumi telah menyebabkan tiga lempeng dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia terbelah menjadi bagian-bagian pulau yang juga membentuk Kepulauan Indonesia. Lempeng Eurasia membentuk Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, dan Kepulauan Banda. Lempeng Indo-Australia membentuk Pulau Nusa Tenggara Timur, Timor Timur, dan Kepulauan Maluku Tenggara. Pulau-pulau ini terus mengalami pergerakan dan membentuk kepulauan lainnya hingga Masa Pleistosen akhir.
  3. Alfred Russel Wallace adalah seorang naturalis Inggris yang melakukan penelitian flora dan fauna di Nusantara pada tahun 1854-1862. Hasil penelitiannya tentang pengelompokan jenis flora dan fauna di Nusantara telah dijadikan acuan ilmu pengetahuan hingga saat ini.
  4. Alfred Russel Wallace membagi flora dan fauna di Nusantara ke dalam beberapa jenis. Berikut pembagian flora dan fauna di Kepulauan Indonesia.

    1. Flora dan fauna tipe Asia Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
      Flora dan fauna tipe Asia merupakan jenis flora dan fauna yang memiliki kemiripan dengan flora dan fauna di Benua Asia. Flora dan fauna tipe Asia ini terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Adapun jenis hewan bertipe Asia antara lain gajah, kera, harimau, tapir, orangutan, buaya, kadal, kura-kura, burung hantu, elang, jalak, dan kutilang. Adapun jenis flora tipe Asia antara lain bunga rafflesia, meranti, beringin, cempaka, mahoni, kamper, dan jati. Wilayah ini ditandai garis khayal, yakni garis wallace yang memisahkan flora dan fauna tipe Asia dengan tipe peralihan.
    2. Flora dan fauna tipe peralihan
      Flora dan fauna tipe peralihan merupakan jenis tumbuhan dan hewan yang merupakan ciri khas Kepulauan Indonesia. Jenis tumbuhan dan hewan peralihan tidak memiliki kemiripan dengan tumbuhan dan hewan yang ada di Benua Asia dan Benua Australia. Contohnya anoa dan babirusa di Pulau Sulawesi.
    3. Flora dan fauna tipe Australia Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
      Flora dan fauna tipe Australia merupakan jenis tumbuhan dan hewan yang memiliki kemiripan dengan tumbuhan dan hewan di Benua Australia. Tumbuhan dan hewan tipe Australia terdapat di Papua, misalnya cenderawasih, kalkun semak (Alectura lathami), dan kanguru. Daerah flora dan fauna tipe Australia ini dipisahkan oleh garis weber yang dibuat oleh Max Wilhelm Cari Weber.

      Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
      Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

      Gambar 2.1 Letak garis wallace dan garis weber dalam wilayah Indonesia. Baca artikel sebelumnya!

C. JENIS MANUSIA PRAAKSARA INDONESIA Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

  1. Meganthropus paleojavanicus
    Meganthropus paleojavanicus merupakan manusia praaksara tertua yang ditemukan di Indonesia. Fosil-fosil Meganthropus paleojavanicus ditemukan oleh arkeolog von Koenigswald dan Marks di daerah Sangiran, Jawa Tengah, pada lapisan Pleistosen Bawah. G. H. R von Koenigswald menemukan fragmen-fragmen rahang atas serta gigi-gigi lepas antara tahun 1936-1941. Adapun Marks menemukan fragmen rahang bawah pada 1952.Megantropus paleojavanicus berasal dari kata mega artinya ‘besar’ atau ‘raksasa’ dan anthropus artinya ‘manusia’. Jadi, Megantropus paleojavanicus berarti manusia raksasa dari Jawa. Adapun ciri-ciri Megantropus paleojavanicus adalah sebagai berikut. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

    1. Hidup sekitar 2 juta hingga 1 juta tahun yang lalu.
    2. Memiliki badan yang tegap dan rahang yang kuat.
    3. Memiliki tonjolan kening dan tonjolan belakang yang kuat.
    4. Tidak memiliki dagu.
    5. Masih mengumpulkan makanan.
    6. Pemakan tumbuhan dan umbi-umbian. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
      Awalnya, Meganthropus paleojavanicus digolongkan sebagai Australopithecus. Namun, hasil penelitian lebih lanjut menggolongkan manusia purba ini ke dalam Homo erectus. Namanya pun kemudian diubah menjadi Homo erectus paleojavanicus. Nama “paleojavanicus1‘ pemberian Koenigswald tetap dipertahankan. Baca artikel sebelumnya!
  2. Pithecanthropus erectus Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
    Pithecanthropus erectus ditemukan oleh Eugene Dubois di daerah Trinil, Jawa Timur, pada lapisan Pleistosen Tengah, tahun 1891. Pithecanthropus erectus berasal dari kata pithecos artinya ‘kera’ dan anthropus artinya ‘manusia’. Jadi, Pithecanthropus erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Ciri-ciri Pithecanthropus erectus adalah sebagai berikut.

    1. Hidup sekitar 1 juta sampai 700.000 tahun yang lalu. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
    2. Tinggi badan sekitar 165-170 cm.
    3. Berat badan mencapai 100 kg. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
    4. Volume otak rata-rata sekitar 900 cc.
    5. Berbadan tegap serta tengkuk besar dan kuat.
    6. Rahang bawah dan tulang pipi sudah cukup kuat.
    7. Memiliki kening dan tonjolan belakang yang tebal.
    8. Makanan sudah mulai diolah dan telah memakan daging.
      Pithecanthropus erectus adalah salah satu tahapan evolusi menuju manusia modern dengan kapasitas otak yang lebih kecil (900 cc). Adapun kapasitas otak manusia modern adalah 1.200-1.400 cc. Oleh karena itu, Pithecanthropus erectus harus dimasukkan genus Homo. Pithecanthropus erectus kemudian dinamakan Homo erectus erectus. Baca artikel sebelumnya!
  3. Homo Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

    Manusia praaksara jenis Homo merupakan manusia yang memiliki tingkat kecerdasan cukup tinggi. Manusia praaksara jenis Homo memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut.

    1. Sudah mulai berjalan tegak seperti manusia sekarang meskipun belum sempurna.
    2. Bentuk muka dan hidungnya lebar. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
    3. Dahi dan mulutnya masih menonjol meskipun tidak seperti manusia praaksara sebelumnya.
      Ada beberapa manusia praaksara jenis Homo yang ditemukan di Indonesia, yaitu Homo soloensis, Homo wajakensis, dan Homo floresiensis. Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

      1. Homo soloensis ditemukan oleh Ter Haar dan W.F.F. Oppenorth di Desa Ngandong, Bengawan Solo, Jawa Tengah, pada tahun 1931-1933. Homo soloensis diperkirakan hidup antara 900.000-300.000 tahun lalu. Volume otaknya 1.000-1.200 cc.
      2. Homo wajakensis ditemukan oleh B.D. van Rietschoten di Desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, pada tahun 1889. Tinggi badannya antara 130-210 cm dan hidup antara 40.000-25.000 tahun lalu. Homo wajakensis lebih maju dibandingkan Homo soloensis.
      3. Homo floresiensis diperkirakan memiliki tinggi maksimal manusia praaksara jenis ini 106 cm dengan volume otak 380 cc. Oleh karena tubuhnya pendek, manusia purba jenis ini disebut Rangka Homo floresiensis ditemukan di Liang Bua, Manggarai, Pulau Flores, tahun 2003. Homo floresiensis diperkirakan punah sekitar 50.000 tahun lalu.
error: Content is protected !!
Open chat
Butuh bantuan?
Halo
Ada yang bisa dibantu?