Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha Bagian Lima

Perkembangan AgamaBagian lima

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha Bagian Lima

11. Kerajaan Bali Perkembangan Agama Bagian Lima

a. Lokasi

Kerajaan Bali merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Tampak Siring dan Pejeng.

b. Kehidupan politik pemerintahan

Berikut raja-raja yang memerintah Kerajaan Bali:

  • Sri Kesari Warmadewa,
  • Ugrasena (915-942 M),
  • Tabanendra Warmadewa,
  • Jayasingha Warmadewa,
  • Jayashadu Warmadewa,
  • Sri Wijaya Mahadewi,
  • Dharma Udayana Warmadewa merupakan ayah dari Airlangga. Pascaperistiwa Pralaya, Airlangga menggantikan Darmawangsa sebagai raja Medang,
  • Marakata,
  • Anak Wungsu (1049-1077 M),
  • Jaya Sakti, dan
  • Bedahulu.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada. Sejak itu, Kerajaan Bali menjadi wilayah kekuasaan Majapahit. Pascawafatnya Raja Bedahulu, terjadi kekosongan kekuasaan. Baca artikel sebelumnya!

Majapahit kemudian menunjuk Sri Kresna Kepakisan sebagai raja. Dari sinilah berawal Wangsa Kepakisan.

c. Struktur pemerintahan Perkembangan Agama Bagian Lima

Keluarga raja memerintah secara turun-temurun (sistem dinasti). Raja Bali memerintah berdasarkan kitab undang-undang hukum Uttara widhi balawan dan

Badan penasihat raja yang disebut pakirankiran ijro makabehan, terdiri atas senopati, pendeta agama Buddha (dang upadyaga), dan pendeta agama Hindu (dang acarya).

Pegawai pemerintahan bagian pemerintahan, pemungutan pajak, dan administrasi.

d. Kehidupan sosial ekonomi Perkembangan Agama Bagian Lima

Penduduk Kerajaan Bali sudah hidup teratur menggunakan sistem caturwarna atau kasta yang terdiri atas kasta brahmana, kesatria, waisya, dan sudra.

Sistem keluarga Bali mengenal pemberian nama, seperti wayan (anak pertama), made (anak kedua), nyoman (anak ketiga), dan ketut (anak keempat). Ada juga pemberian sebutan nama untuk anak dari kasta brahmana dan kesatria, yaitu putu.

Mata pencarian penduduknya adalah bertani. Mereka sudah mengenal istilah persawahan, seperti parlak (sawah kering), gaja (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (pengairan sawah).

e. Kehidupan budaya

Penduduk Kerajaan Bali menganut agama Hindu Dharma yang merupakan hasil sinkretisme agama Hindu dengan kepercayaan asli penduduk Bali.

Penduduk Bali mengenal beragam seni, di antaranya kesenian keraton yang tampil di keraton untuk menghibur keluarga raja dan kesenian rakyat untuk menghibur rakyat biasa. Beragam kesenian tersebut di antaranya patapukan (atapuk atau topeng), pamukul (amukul, penabuh gamelan), abanwal (permainan badut), abonjing (bujing, musik angklung), bhangin (peniup suling), dan perbwayang (permainan wayang).

Berikut beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Bali.
1. Prasasti Blanjongan/Sanur (913 M), menceritakan kemenangan ekspedisi militer yang dipimpin Sri Kesari Warmadewa, hubungan Kerajaan Bali dengan penerus Mataram Kuno, hubungan Kerajaan Bali dengan kerajaan di India, dan praktik keagamaan Hindu dan Buddha d masyarakat Bali.
2. Kompleks Candi Gunung Kawi.
3. Pura Besakih. Baca artikel sebelumnya!

E. PENGARUH AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA Perkembangan Agama Bagian Lima

Bidang Politik Pemerintahan Perkembangan Agama Bagian Lima

a. Munculnya sistem pemerintahan yang bersifat turun-temurun
Pada awalnya, masyarakat kita memilih pemimpin berdasarka’ kekuatan dan/atau kecerdasan seseorang. Mereka yang terpilih akan menjadi kepala suku untuk memimpin kelompoknya. Sejak masuknya pengaruh Hindu-Buddha, pemimpin bukan lagi seorang kepala suku, melainkan raja yang memerintah secara bergantian turun-temurun.

Perkembangan AgamaBagian lima
Perkembangan AgamaBagian lima

b. Munculnya feodalisme

Pemilihan kepala suku yang awalnya bersifat demokratis, kini tidak lagi. Pemilihan raja melalui sistem dinasti telah memunculkan feodalisme dalam masyarakat Indonesia saat itu. Keluarga raja merupakan kelompok yang memiliki hak istimewa dalam berbagai bidang kehidupan.

c. Munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha

Pada awalnya, masyarakat Indonesia hanya mengenal kehidupan secara berkelompok. Mereka membentuk komunitas sendiri yang berkembang menjadi sebuah desa atau perkampungan. Akan tetapi, setelah masuk pengaruh Hindu-Buddha, mulai berdiri dan berkembang kerajaan-kerajaan Hindu Buddha.

d. Adanya konsep dewaraja

Salah satu konsep filsafat dalam bidang politik pemerintahan adalah konsep dewaraja. Konsep ini menganggap seorang raja sebagai titisan dewa di dunia. Dengan demikian, rakyat harus menghormati dan menaati segala perintah raja. Melawan raja sama dengan melawan dewa yang dapat menimbulkan kemarahan dewa. Baca artikel sebelumnya!

Bidang Sosial Ekonomi

Munculnya stratifikasi sosial masyarakat berdasarkan sistem kasta Pengaruh agama Hindu yang paling terlihat adalah munculnya sistem kasta dalam masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia terbagi menjadi kasta brahmana, kesatria, waisya, dan sudra.

Berkembangnya kegiatan perdagangan dan pelayaran antarpulau Masyarakat Indonesia sudah mengenal kegiatan perdagangan dan pelayaran sejak lama. Mereka berdagang dengan menggunakan

sistem barter. Seiring masuknya pengaruh Hindu-Buddha, kegiatan perdagangan dan pelayaran itu pun semakin berkembang hingga ke wilayah-wilayah di luar Nusantara. Mereka membentuk pasar untuk memperjualbelikan barang dagangan mereka

Mengenal sistem mata uang
Di beberapa kerajaan, penggunaan mata uang perak, tembaga, dan emas sudah mulai dilakukan.

Bidang Budaya Perkembangan Agama Bagian Lima

Masyarakat Indonesia mengenal agama Hindu dan Buddha Sebelum pengaruh Hindu dan Buddha masuk, masyarakat Indonesia menganut animisme dan dinamisme. Sejak agama Hindu dan Buddha masuk, masyarakat Indonesia saat itu banyak yang menganut agama Hindu dan Buddha. Ada juga sinkretisme yang terjadi antara kebudayaan pendatang dan kebudayaan asli, seperti munculnya agama Buddha Tantrayana.

Berdirinya pusat pendidikan agama
Pendidikan berkembang dengan berdirinya pusat pendidikan agama di Indonesia, seperti halnya di Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat pendidikan agama Buddha. Pertukaran pelajar untuk mendalami agama Buddha pun dilakukan antara Kerajaan Nalanda dan Sriwijaya. Begitu pula dengan pemberian beasiswa belajar bagi pelajar-pelajar Indonesia.

Pengenalan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta
Kitab-kitab suci agama Hindu banyak ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Masyarakat Indonesia banyak mempelajari huruf dan bahasa tersebut. Hal ini tercermin dalam berbagai prasasti yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Selain itu, ada yang menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Kesenian berkembang pesat
Kesenian, baik seni sastra, seni ukir, seni wayang, maupun seni tari semakin berkembang. Hal ini terlihat dengan adanya peninggalan masa Hindu-Buddha berupa kitab dan kakawin dari setiap periode kerajaan yang muncul. Begitu pula dengan seni ukir yang ditunjukkan oleh keragaman bentuk candi dan arca.
Seni wayang yang berkembang pada masa Hindu-Buddha merupakan wujud akulturasi dengan tradisi lokal yang sudah ada. Pada awalnya, pertunjukan wayang merupakan bentuk pemujaan terhadap roh nenek moyang. Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh Hindu- Buddha, pertunjukan wayang menjadi salah satu seni pertunjukan dengan lakon dewa-dewi dan sumber ceritanya dari Ramayana dan Mahabarata asal India. Baca artikel sebelumnya!

Arsitektur bangunan bercorak Hindu-Buddha Perkembangan Agama Bagian Lima

Arsitektur bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia antara lain terlihat pada bangunan candi. Candi berasal dari bahasa Sanskerta. candikagrha artinya rumah candi atau candika, yang merupakan sebutan untuk Dewi Durga atau Dewi Kematian dalam agama Hindu. Bangunannya disusun bertingkat-tingkat yang melambangkan tingkatan kehidupan manusia.

Bangunan candi memiliki fungsi yang beragam. Candi Hindu biasanya berfungsi sebagai tempat pemujaan dan makam raja, sedangkan candi Buddha biasanya berfungsi sebagai tempat pemujaan saja. Hal ini menunjukkan bentuk akulturasi (percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi), yaitu kepercayaan Hindu-Buddha dengan tradisi lokal. Pada masa prasejarah, masyarakat Indonesia sudah mengenal tradisi pemujaan, berupa pemberian sajen yang diletakkan pada bangunan menhir dan dolmen. Pada masa Hindu-Buddha, bangunan-bangunan pemujaan itu berganti dengan bentuk candi dan arca, tetapi dengan fungsi yang hampir sama.

Terdapat perbedaan antara candi yang ada Jawa Tengah dengan candi yang ada di Jawa Timur. Ciri-ciri candi yang berada di Jawa Tengah adalah bentuknya tambun dengan hiasan kalamakara di atas gawang pintu masuk, puncak candi berbentuk stupa, bahan utamanya batu andesit, dan umumnya menghadap ke timur. Adapun ciri-ciri candi yang ada di Jawa Timur adalah bentuknya lebih ramping, puncak candi berbentuk kubus, di atas gawang pintu terdapat hiasan kala, bahan utamanya batu bata, dan umumnya menghadap ke barat.

Seni bangunan candi juga merupakan bentuk akulturasi dengan tradisi lokal. Contohnya, bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara bangunan masa praaksara, yakni punden berundak, dengan unsur-unsur Buddhisme, yakni stupa.

Pengenalan sistem kalender Saka
Kalender Saka yang dimulai pada tahun 78 mulai digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat seiring berdirinya kerajaan Hindu- Buddha di Nusantara.

Munculnya upacara-upacara keagamaan Perkembangan Agama Bagian Lima

Masuknya pengaruh Hindu Buddha juga membawa pengaruh terhadap tradisi masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, muncul upacara- upacara keagamaan dan upacara tradisi lainnya dalam kehidupan masyarakat, seperti Ngaben dan Galungan bagi umat Hindu serta Waisak bagi umat Buddha. Baca artikel sebelumnya!

Perkembangan AgamaBagian lima
Perkembangan AgamaBagian lima (a) Candi Sambisari berada di Sleman, Yogyakarta, (b) Candi Brahu berada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. 

 

 

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia Bagian Empat

Perkembangan AgamaBagian Tiga

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia Bagian Empat

9. Kerajaan Majapahit Perkembangan Agama Bagian Empat

a. Lokasi

Kerajaan Majapahit terletak di daerah Trowulan sekarang, Mojokerto, Jawa Timur. Tanggal berdirinya kerajaan ini adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yakni 10 November 1 293 M.

b. Kehidupan politik pemerintahan

1.  Berikut beberapa raja Majapahit.

a) Raden Wijaya (1293-1309 M)
Pascaruntuhnya Singasari akibat serangan Jayakatwang, Raden Wijaya, menantu Kertanegara, akhirnya menyatakan tunduk kepada Jayakatwang. la pun mendapat hadiah sebidang tanah di Desa Tarik. Namun, ketika pasukan Mongol tiba di Jawa pada tahun 1293 untuk membalas perlakuan Kertanegara, yang telah tewas oleh Jayakatwang, Raden Wijaya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang Jayakatwang.

Perkembangan Agama Bagian Tiga
Perkembangan Agama Bagian Empat
Perkembangan AgamaBagian Tiga
Perkembangan AgamaBagian Empat.14 Arca perwujudan Raden Wijaya sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana

Dengan mengelabui pasukan Mongol, Raden Wijaya memanfaatkan mereka untuk menyerang Jayakatwang di Kediri. Akhirnya, Kediri pun takluk dan Jayakatwang ditawan. Setelah itu, Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol dan mengusir mereka. Kemenangan atas Kediri dan pasukan Mongol menandai lahirnya Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya naik takhta menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

b) Sri Jayanegara (1309-1328 M)
Nama asli Sri Jayanegara adalah Kalagemet. la adalah putra Raden Wijaya dari permaisuri Dyah Sri Tribuaneswari. Pemerintahannya kurang baik, bahkan banyak terjadi pemberontakan, seperti Pemberontakan Lembu Sora, Pemberontakan Nambi, Pemberontakan Gajah Biru, Pemberontakan Ra Kuti dan Ra Semi yang paling besar. Pemberontakan Ra Kuti berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada, tetapi Jayanegara sendiri tewas oleh Ra Tanca.

c)Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1350 M) Perkembangan Agama Bagian Empat

Gayatri atau Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani, adik Jayanegara, naik takhta karena Jayanegara tidak memiliki seorang putra mahkota. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta. Kedua pemberontakan ini berhasil ditumpas Gajah Mada yang kemudian diangkat menjadi mahapatih pada tahun 1336 M. Pada saat pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa, yaitu tidak akan makan palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Gajah Mada pun melakukan penaklukan ke berbagai wilayah. Baca artikel sebelumnya!

d) Hayam Wuruk (1350-1389 M) Perkembangan Agama Bagian Empat

Hayam Wuruk, anak Gayatri, naik takhta dengan gelar Rajasanegara. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan. Wilayahnya meliputi hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang.
Pada masa pemerintahannya, terjadi Peristiwa Bubat yang melibatkan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Pada tahun 1357, Hayam Wuruk ingin meminang putri Raja Sunda (Pajajaran) Sri Baduga Maharaja yang bernama Dyah Pitaloka. Pihak Kerajaan Sunda melihatnya sebagai perjanjian persekutuan. Raja Sunda beserta rombongan kerajaan kemudian mengantarkan Dyah Pitaloka ke Majapahit. Sri Baduga memerintahkan pasukannya berkemah di Lapangan Bubat untuk menunggu Hayam Wuruk menjemput putrinya. Mahapatih Gajah Mada kemudian melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa Kerajaan Sunda takluk, la pun melarang Hayam Wuruk menjemput dan menginginkan Sri Baduga mengantarkan putrinya. Sri Baduga murka dan menolak. Pertempuran pun terjadi di Bubat. Raja Sri Baduga Maharaja tewas dan Dyah Pitaloka bunuh diri. Hayam Wuruk mangkat pada tahun 1389.

e) Wikramawardhana (1389-1429 M) Perkembangan Agama Bagian Empat

Wikramawardhana adalah suami Kusumawardhani, putri mahkota Hayam Wuruk. Sementara itu, putra hayam Wuruk dari selir, Bhre Wirabhumi diberikan jabatan sebagai penguasa Blambangan. Akan tetapi, Bhre Wirabhumi merasa tidak puas dan ingin merebut takhta kerajaan. Peristiwa perebutan kekuasaan antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhani disebut Perang Paregreg yang diperkirakan terjadi tahun 1405-1406. Perang Paregreg dimenangkan oleh Wikramawardhana.

Sejak terjadinya Perang Paregreg, kekuasaan Majapahit semakin lemah. Banyak wilayah kekuasaannya yang melepaskan diri. Raja-raja Majapahit selanjutnya pun tidak berhasil mempertahankan kejayaannya hingga kemudian dikuasai oleh Kerajaan Islam Demak.

2. Sistem pemerintahan Kerajaan Majapahit terdiri atas beberapa jabatan penting, yakni sebagai berikut.

  1. Rakryan mahamantri katrini, terdiri atas keluarga raja.
  2. Rakryan mantri ri pakira-kiran, terdiri atas beberapa menteri yang akan menjalankan pemerintahan.
  3. Dharmmadhyaksa yang merupakan menteri hukum.
  4. Dharmma-upapatti yang merupakan menteri keagamaan.
  5. Bhattara saptaprabhu yang merupakan dewan penasihat kerajaan yang anggotanya terdiri atas keluarga besar kerajaan.
  6. Uparaja paduka bhattara, pejabat kerajaan di daerah yang bertugas memungut pajak, mengirim upeti, dan menjaga wilayahnya.

3. Dalam bidang keagamaan, terdapat pejabat agama yang mengurus agama Siwa dan Buddha, yaitu dharmadyaksa ring kasaiwan, dharmapapati atau dharmadihikarana, dan dharmadyaksa ring kasogatan. Tugas pejabat agama ini dibantu pula oleh tripaksa, yaitu rsi-saiwa-sagata (berkelompok tiga) dan catur dwija, yaitu mahabrahmana (wipra)-saiwa-sogata-rsi (berkelompok empat).

4. Wilayah Kerajaan Majapahit terbagi menjadi tiga wilayah utama, yaitu: Perkembangan Agama Bagian Empat

  1. negara agung, merupakan pusat kerajaan;
  2. mancanegara, merupakan wilayah yang melingkupi negara agung dan masih meliputi Pulau Jawa;
  3. nusantara, merupakan wilayah koloni Kerajaan Majapahit.

5. Kerajaan Majapahit sudah menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di luar Pulau Jawa. Hubungan diplomatik itu dijalin berdasarkan prinsip mitreka satata, artinya menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain berdasarkan prinsip kesetaraan.

6. Kerajaan Majapahit runtuh karena faktor-faktor berikut.

  1. Tidak adanya pengganti Hayam Wuruk yang pandai dalam menjalankan pemerintahan Majapahit.
  2. Terjadinya Perang Paregreg yang melemahkan kekuasaan Majapahit.
  3. Semakin banyaknya daerah kekuasaan Majapahit yang melepaskan diri, terutama di daerah pesisir.
  4. Serangan dari Kerajaan Islam Demak.

c. Kehidupan sosial ekonomi Perkembangan Agama Bagian Empat

  1. Mayoritas penduduk Majapahit bekerja sebagai petani karena wilayahnya yang subur. Kegiatan perdagangan juga berkembang pesat dengan hasil komoditasnya berupa lada dan garam.
  2. Dalam kegiatan ekonomi, mereka sudah mengenal mata uang dari kepingan emas, perak, dan tembaga. Mereka juga sudah mengenal sistem pajak berupa upeti yang diberikan oleh daerah- daerah kekuasaan Majapahit kepada pemerintah pusatnya.

d. Kehidupan budaya Perkembangan Agama Bagian Empat

Kerajaan Majapahit bercorak Hindu Siwa, Hindu Wisnu, dan Buddha. Penduduk dan raja-rajanya yang berbeda agama tetap dapat hidup berdampingan. Sebagai contoh, Hayam Wuruk menganut agama Hindu aliran Siwassidhanta, sedangkan ibunya, Tribhuana Tunggadewi, menganut agama Buddha.

Kebudayaan Kerajaan Majapahit berkembang pesat. Prasasti, candi, dan kitab-kitab, baik sastra maupun hukum, banyak dihasilkan, antara lain Prasasti Kudadu (1294 M), Candi Wringin Lawang, dan kitab Nagarakretagama (1365). Nagarakretagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa Hayam Wuruk. Nagarakretagama menceritakan antara lain silsilah raja-raja Majapahit, keadaan kota raja, wilayah Majapahit, dan negara-negara bawahan Majapahit.

Seni arsitektur pada masa Kerajaan Majapahit juga berkembang pesat. Bangunan suci untuk pemujaan dibangun di beberapa daerah. Berikut beberapa jenis bangunan suci masa Kerajaan Majapahit.
a. Dharma-dalm atau dharma-haji adalah bangunan suci yang diperuntukkan bagi raja beserta keluarganya.
b. Dharma-lpas adalah bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-sa/wa- sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencarian mereka.
c. Bangunan suci untuk rakyat, seperti mandala, katyagan, dan janggan, yang disebut patapan atau Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pendidikan agama yang dipimpin oleh siddharsi atau dewaguru. Baca artikel sebelumnya!

Berdasarkan fungsinya, candi-candi masa Majapahit dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni sebagai berikut.
a) Candi-candi yang berfungsi sebagai pendarmaan raja dan kuil pemujaan dewa. Ciri-cirinya adalah adanya tubuh candi dan ruang utama (garbhagrha) untuk menempatkan sebuah arca pendarmaan (dewawimbha), misalnya Candi Jago, Pari, Rimbi, dan Simping (Sumberjati).
b) Candi-candi yang berfungsi hanya sebagai kuil pemujaan. Candi ini tidak mempunyai garbhagrha dan arca perwujudan raja. Tubuh candi diganti dengan altar atau miniatur candi. Candi-candi ini terletak di lereng-lereng gunung, misalnya di Lereng Gunung Penanggungan.

10. Kerajaan Sriwijaya Perkembangan Agama Bagian Empat

a. Lokasi

Kerajaan Sriwijaya terletak di Sumatra Selatan dan diperkirakan berdiri sekitar abad VII M. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan besar yang sudah dikenal di mancanegara. Namanya disebut dalam berbagai sebutan, seperti San-fo-ts’l, Shih-li-fo-shih, dan San Fo Qi dalam bahasa Tiongkok, Yavadesh atau Javadeh dalam bahasa Sanskerta, dan Zaba atau Zabag dalam bahasa Arab.

Perkembangan AgamaBagian Tiga
Perkembangan AgamaBagian Empat. Lokasi
Kerajaan Sriwijaya dan wilayah kekuasaannya

b. Kehidupan politik pemerintahan Perkembangan Agama Bagian Empat

Raja-raja Sriwijaya menggunakan gelar maharaja atau dapunta hyang. Pemerintahannya menggunakan sistem dinasti. Putra- putra mahkotanya mempunyai istilah yuvaraja (putra mahkota). pratiyuvaraja (putra mahkota kedua), dan rajaku mara (pewaris berikutnya). Ada juga rajaputra yang berasal dari selir dan tidak berhak naik takhta. Mereka hanya diberi daerah kekuasaan. Baca artikel sebelumnya!

Berikut silsilah raja-raja Sriwijaya berdasarkan peninggalan sejarahnya.

  1. Dapunta Hyang Sri Yayanaga Dapunta Hyang Sri Yayanaga berhasil memperluas wilayah Sriwijaya hingga ke Minangatamwan.
  2. Sri Indrawarman (berita Tiongkok, 724 M)
  3. Rudrawikrama (berita Tiongkok, 728 M)
  4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
  5. Maharaja (berita Arab, 851 M)
  6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M). Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya mencapai zaman keemasan.
  7. Sri Udayadityawarman (berita Tiongkok, 960 M)
  8. Sri Udayaditya (berita Tiongkok, 962 M)
  9. Sri Cudamaniwarmadewa (berita Tiongkok, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)
  10. Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
  11. Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)

Struktur pemerintahan Kerajaan Sriwijaya terdiri atas beberapa pejabat pemerintah, yaitu bupati (penguasa daerah), senapati (komandan pasukan), dan danayaka (hakim), hayaka (pemungut pajak), prataya (pengurus kekayaan raja), kumara matya (menteri), kayatsha (juru tulis), dan sthapaka (rohaniwan kerajaan).

Dalam bidang militer, Sriwijaya banyak memiliki daerah taklukan yang disebut Daerah taklukan dipimpin oleh seorang datu yang bergelar nigalarku. Daerah taklukan juga dijaga oleh pasukan militer yang dipimpin oleh parvvanda.

Para bajak laut mempunyai peran penting dalam perdagangan laut Kerajaan Sriwijaya. Mereka diberi kekuasaan dan keuntungan dari perdagangan yang berlangsung.

Wilayah kekuasaan Sriwijaya dibagi menjadi:  Perkembangan Agama Bagian Empat

  1. daerah yang dikuasai raja dan keluarganya, disebut kaddaturr,
  2. daerah otonomi luas yang dikuasai datu, disebut parddaturr,
  3. wilayah yang dikuasai oleh organisasi perdagangan;
  4. wilayah yang dikuasai oleh bajak laut, tetapi bajak laut ini bekerja untuk pemerintah Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran karena faktor-faktor berikut.

  1. Serangan Kerajaan Chola dari India pada tahun 1023 M dan 1030 M. Serangan tersebut diperkirakan akibat masalah politik dan persaingan perdagangan.
  2. Melemahnya kegiatan perekonomian perdagangan Sriwijaya. Hal ini diakibatkan pengendapan lumpur di Sungai Musi dan sungai-sungai besar lainnya sehingga kapal-kapal dagang sulit berlabuh. Jika kegiatan perdagangan menurun, pajak perdagangan pun ikut berkurang. Selain itu, banyak wilayah taklukan Sriwijaya yang melepaskan diri.
  3. Adanya serangan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singasari yang semakin melemahkan kedudukan Sriwijaya.
  4. Serangan dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1477 M.

c. Kehidupan sosial ekonomi 

Mata pencarian utama penduduk Kerajaan Sriwijaya adalah perdagangan. Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan maritim yang tangguh karena didukung oleh armada laut yang kuat. Selain itu, pemerintah pusat Kerajaan Sriwijaya memanfaatkan kekuatan bajak laut dengan membagi keuntungan perdagangan. Oleh karena itu, mereka pun turut serta dalam menjaga perdagangan laut Sriwijaya dari gangguan bajak laut lainnya.

Komoditas yang sering diperjualbelikan Sriwijaya adalah kapur barus, pala, gading, emas, timah, kapulaga, cengkih, dan kayu gaharu.

Sriwijaya menjalin kerja sama perekonomian dengan kerajaan- kerajaan lainnya, bahkan Sriwijaya berhasil mendapat perlindungan dari Kekaisaran Tiongkok.

Beberapa kelompok pekerja yang terdapat dalam penduduk Sriwijaya antara lain tuha an watak wuruh (pengawas pekerja); adyaksa nijawarna wasikarana (pandai besi); sthapaka (pemahat); puwaham (nahkoda kapal); waniyaga (penjaga); pratisra (pemimpin kelompok kerja); marsi haji (tukang cuci); hulun haji (budak raja). Baca artikel sebelumnya!

d. Kehidupan budaya Perkembangan Agama Bagian Empat

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan bercorak Buddha Mahayana yang sangat maju. Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Buddha di Asia.

Biksu-biksu asing yang pernah datang ke Sriwijaya di antaranya l-tsing, Atisa, dan Sakyakirti.

Penduduk Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa sehari-hari.

Sumber-sumber sejarah yang menunjukkan perkembangan Kerajaan Sriwijaya di antaranya sebagai berikut.

a) Berita Arab
Menyebutkan adanya perkampungan Arab sementara di Sriwijaya. Orang-orang Arab ini menyebut Sriwijaya dengan sebutan Zabag atau Sribuza.
b) Berita Tiongkok
Menyebutkan adanya hubungan dagang antara pedagang Tiongkok dan pedagang Sriwijaya. Para pedagang Tiongkok singgah di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanannya.
c) Berita India
Menyebutkan adanya hubungan diplomatik antara Sriwijaya Kerajaan Chola, dan Nalanda di India. Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Chola memburuk setelah raja Chola merasa terancam dengan kemajuan perdagangan c Sriwijaya. Adapun dengan Kerajaan Nalanda, ditemuka^ adanya Prasasti Nalanda yang dibuat Sriwijaya. Prasas: berisi cerita raja Nalanda yang membebaskan lima desa dari pajak, tetapi kelima desa tersebut harus membiaya pelajar Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda
d) Prasasti Kedukan Bukit, 684 M
Berisi kisah penyerangan Raja Dapunta Hyang ke Minangatamwan dengan membawa 20.000 pasukan.
5) Prasasti Talang Tuo, 684 M
Berisi tentang pembuatan Taman Sriketra.
6) Prasasti Kota Kapur, 686 M
Berisi rencana penaklukan kerajaan di Bhumi Jawa (kemingkinan Kerajaan Tarumanagara dan Holing).
7) Prasasti Karang Berahi, 686 M
Berisi penguasaan wilayah Jambi oleh Sriwijaya.
8) Prasasti Ligor, 775M
Berisi pengawasan pelayaran dan perdagangan di Ligor.
9) Prasasti Nalanda Baca artikel sebelumnya!

Perkembangan Agama bagian Empat
Perkembangan Agama bagian Empat.  (b) Prasasti Nalanda, dan (c) Prasasti Talang Tuo.
Perkembangan Agama Bagian Empat
Perkembangan Agama Bagian Empat. a) Prasasti Kota Kapur,

 

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia Bagian Tiga

Perkembangan Agama Bagian Tiga

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia Bagian Tiga

 

5. Kerajaan Mataram Kuno Perkembangan Agama Bagian Tiga 

a. Lokasi
Kerajaan Mataram Kuno disebut juga Bhumi Mataram yang berdiri sekitar abad VIII M. Kerajaan ini pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Wilayahnya dikelilingi pegunungan dan beberapa sungai besar, seperti Sungai Progo dan Sungai Bengawan Solo.

Perkembangan Agama Bagian Tiga
Perkembangan Agama Bagian Tiga. Lokasi Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Tengah dan periode Jawa Timur serta wilayah kekuasaannya.

b. Kehidupan politik pemerintahan Perkembangan Agama Bagian Tiga

Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh dua dinasti yang berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu dan Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha.

1) Dinasti Sanjaya

Dinasti Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya yang merupakan raja pertama Mataram Kuno dengan gelar Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Pada masa pemerintahannya, Raja Sanjaya berhasil mengembangkan agama Hindu Siwa dan banyak membangun Candi Siwa di Pegunungan Dieng.

Sri Maharaja Rakai Pikatan (840-856 M) merupakan raja terbesar dari Dinasti Sanjaya yang berhasil membawa Kerajaan Mataram Kuno ke masa kejayaan. Rakyatnya hidup makmur. Rakai Pikatan juga berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dan mempertahankan wilayah Mataram Kuno ketika terjadi serangan dari pasukan Balaputradewa. Rakai Pikatan juga memerintahkan pembangunan Candi Prambanan yang terkenal hingga saat ini.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Empu sindok (929-930 M) pusat Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur untuk menghindari serangan dari Kerajaan Sriwijaya dan terjadi bencana alam meletusnya Gunung Merapi. Baca artikel sebelumnya!

2) Dinasti Syailendra

Dinasti Syailendra merupakan dinasti Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddha dan sudah memerintah sejak tahun 700-an M di Jawa Tengah. Samaratungga (81 2-883 M) merupakan raja terbesar dari Dinasti Syailendra. Pada masa pemerintahannya, pembangun Candi Borobudur berhasil diselesaikan dan menjadi candi Buddha terbesar di Nusantara.

Dilanjutkan oleh Pramodhawardhani (883-856 M) yang merupakan putri Samaratungga, ia kemudian menikahi Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Pernikahannya berhasil menyatukan dua dinasti yang berbeda ini.

Adapun Balaputradewa (883-850 M) merupakan putra Samaratungga dari ibu Dewi Tara, putri raja Sriwijaya. Pernikahan Pramodhawardhani dengan Rakai Pikatan telah menimbulkan kekecewaan Balaputradewa yang merasa berhak atas takhta Kerajaan Mataram Kuno dibandingkan Rakai Pikatan. Balaputradewa pun menyerang Rakai Pikatan, tetapi gagal hingga akhirnya melarikan diri ke Sriwijaya.

3) Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno sudah mengenal jabatan menteri. Terdapat tiga menteri utama dalam pemerintahannya, yaitu rakryan i hino, rakryan i halu, dan rakryan i sirikan. Ketiga jabatan tersebut berperan membantu raja dalam menjalankan pemerintahannya. Selain itu, ada juga dewan penasihat yang terdiri atas lima orang patih.

c. Kehidupan sosial ekonomi

Wilayah Kerajaan Mataram Kuno sangat subur dengan adanya sungai-sungai besar yang mengalir di wilayahnya. Hal tersebut mendorong pesatnya perkembangan kegiatan pertanian penduduk kerajaan. Sungai-sungai besar yang mengalir dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan sarana transportasi air.

Penduduk kerajaan terkenal memiliki toleransi beragama yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua dinasti berbeda corak keagamaan yang dapat hidup berdampingan.

d. Kehidupan budaya

Kerajaan Mataram Kuno banyak meninggalkan sumber sejarah berupa candi, prasasti, dan kitab. Beberapa peninggalan yang dapat dijadikan sumber sejarah itu adalah sebagai berikut.
1) Prasasti Canggal ditemukan di daerah Sleman, Yogyakarta. Prasasti Canggal merupakan salah satu prasasti terpenting Kerajaan Mataram Kuno yang berisi Dinasti Sanjaya.
2) Prasasti Mantyasih berisi silsilah Dinasti Sanjaya.
3) Candi Prambanan.
4)  Candi Borobudur.
5) Carita Parahyangan adalah kitab ini berisi asal usul Sanjaya, putra Senna.
6) Prasasti Sojomerto berisi silsilah Dinasti Syailendra.

6. Kerajaan Medang Perkembangan Agama Bagian Tiga

a. Lokasi

Kerajaan Medang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan ini didirikan oleh Empu Sindok di wilayah Jawa Timur. Empu Sindok membangun Dinasti Isyana yang memerintah di Kerajaan Medang, Jawa Timur

b. Kehidupan politik pemerintahan

Berikut beberapa raja Medang.
1) Empu Sindok. Raja pertama Kerajaan Medang yang memerintah tahun 929-947 M sekaligus pendiri Dinasti Isyana.
2) Darmawangsa. la pernah menyerang Sriwijaya pada 990 M, tetapi gagal. Pada masa pemerintahannya, terjadi peristiwa pralaya atau malapetaka, yaitu terjadi serangan dari Raja Wurawari yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Pada peristiwa tersebut, Darmawangsa beserta keluarga istana tewas.
3) Airlangga. Raja terbesar Kerajaan Medang. Pemerintahannya berjalan dengan baik. Airlangga memindahkan pusat kerajaan dari Wutan Mas ke Kahuripan. Selain itu, Airlangga memerintahkan perbaikan pelabuhan Hujung Galuh di Sungai Brantas, membebaskan pajak di Pelabuhan Kambang Putih, dan membangun waduk di Waringin Pitu untuk mencegah banjir Sungai Brantas. Baca artikel sebelumnya!

Perkembangan Agama Bagian Tiga
Perkembangan Agama Bagian Tiga. Arca Airlangga sebagai perwujudan Dewa Wisnu yang sedang menaiki burung garuda menunjukkan agama yang dianut Kerajaan Medang adalah Hindu Wisnu.

Pada akhir masa pemerintahannya, Airlangga memerintahkan Empu Barada agar membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu (Kediri), untuk mencegah perang saudara.

c. Kehidupan sosial ekonomi

Dinasti Isyana merupakan dinasti kerajaan yang bercorak Hindu, tetapi raja dan penduduknya memiliki toleransi terhadap ajaran agama lain.

Penduduknya, baik yang menganut Hindu maupun Buddha, hidup berdampingan. Begitu pula dengan raja-raja Medang. Sebagai contoh, Empu Sindok memerintahkan pengumpulan kitab agama Buddha Tantrayana, Sang Hyang Kamahayanikan.

Mata pencarian utama penduduk Kerajaan Medang adalah bertani. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembangunan waduk Waringin Pitu untuk irigasi dan mencegah banjir.

d. Kehidupan budaya

Penduduk Kerajaan Medang menganut agama Hindu Waisnawa yang memuja Dewa Wisnu. Hal ini dibuktikan dengan dibuatnya patung Airlangga sebagai perwujudan Dewa Wisnu yang sedang menaiki burung garuda. Karya sastra berkembang pesat sejak masa Airlangga memerintah. Para pujangga kerajaan memiliki posisi yang istimewa dalam stratifikasi masyarakatnya. Oleh karena itulah, pujangga istana juga banyak menghasilkan karya sastra yang menceritakan kehebatan raja-rajanya. Salah satunya adalah Arjunawiwaha yang ditulis oleh Empu Kanwa tahun 1035 M. Kitab tersebut menceritakan kehebatan Airlangga dalam memerintah Kerajaan Medang.

Selain itu, juga terdapat beberapa candi peninggalan Kerajaan Medang, antara lain Candi Gunung Gangsir, Candi Songgoroti, dan Candi Belahan, serta Prasasti Kalkuta yang menceritakan silsilah Raja Airlangga. Baca artikel sebelumnya!

7. Kerajaan Kediri Perkembangan Agama Bagian Tiga

a. Lokasi

Kerajaan Kediri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang. Setelah membagi wilayah Kerajaan Medang menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu (Kediri), Airlangga memutuskan untuk menjadi seorang pertapa. Anak pertama Airlangga pun, Sanggramawijaya, memilih menjadi pertapa ketimbang menggantikan kedudukan Airlangga sebagai raja.

Saat itu Kerajaan Kediri (Panjalu) berpusat di Daha. Kerajaan Jenggala berpusat di Kahuripan. Kerajaan Kediri diperintah oleh Samarawijaya, sedangkan Kerajaan Jenggala diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Perkembangan Agama  Bagian Tiga
Perkembangan Agama Bagian Tiga

b. Kehidupan politik pemerintahan

Berikut ini beberapa raja Kediri.
1) Samarawijaya, raja pertama Kediri yang merupakan putra Airlangga.
2) Sri Jayabhaya, raja terbesar Kerajaan Kediri. Pada masa pemerintahannya, Kediri tidak saja berkembang sebagai kerajaan agraris, tetapi juga kerajaan maritim. Jayabhaya juga berhasil menyatukan Jenggala dengan Kediri. Selain itu, Jayabhaya juga menulis ramalan Jangka Jayabhaya yang menyebutkan kedatangan ratu adil kelak.
3) Sri Kameswara, raja Kediri yang sangat memperhatikan perkembangan budaya kerajaan. Pada masa pemerintahannya, banyak dihasilkan karya sastra tentang ajaran agama dan kehidupan raja, antara lain kakawin Smaradhana karya Empu Dharmaja yang menceritakan pernikahan Kameswara dengan Candrakirana.
4) Kertajaya, merupakan raja terakhir Kerajaan Kediri. Pemerintahannya banyak menimbulkan protes, baik dari penduduk maupun kaum brahmana. Kertajaya memaksa kaum brahmana untuk menyembah dirinya sebagai dewa, tetapi ditolak. Kaum brahmana kemudian bersekutu dengan Ken Arok (akuwu/bupati Tumapel yang merupakan wilayah kekuasaan Kediri). Ken Arok kemudian berhasil mengalahkan Kertajaya dalam pertempuran di Ganter tahun 1222. Meninggalnya Kertajaya menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Isyana di Jawa Timur.

c. Kehidupan sosial ekonomi Pe rkembangan Agama Bagian Tiga

Penduduk Kerajaan Kediri dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu golongan pemerintah pusat yang terdiri atas kaum bangsawan kerajaan, golongan petani yang bekerja di daerah, dan golongan nonpemerintahan yang terdiri atas orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan atau bekerja selain petani.

Kehidupan perekonomian banyak diatur oleh pejabat kerajaan dan pegawai rendahan yang bekerja di daerah-daerah. Penduduknya mayoritas bekerja sebagai petani. Selain itu, ada yang bekerja sebagai pedagang dan peternak. Adapun barang-barang yang diperjualbelikan di antaranya emas, perak, gading, dan cendana.

Pemerintah Kerajaan Kediri sudah menerapkan sistem pajak bagi penduduknya yang dibayarkan menggunakan hasil bumi, seperti beras. Ada juga hukuman bagi para pelaku kejahatan berupa hukuman denda atau hukuman mati. Hukuman bergantung pada tingkat kejahatan yang dilakukan. Baca artikel sebelumnya!

d. Kehidupan budaya

Kerajaan Kediri sangat memperhatikan kehidupan kebudayaannya. Sejak masa Airlangga hingga Kertajaya, banyak sekali karya sastra yang dihasilkan para pujangga istana. Berikut ini adalah beberapa karya sastra Kerajaan Kediri.
1) Kakawin Bharatayudha oleh Empu Panuluh dan Empu Sedah yang mengisahkan perang saudara antara Jenggala dan Panjalu.
2) Kakawin Smaradhana oleh Empu Darmaja tentang pemujaan raja Kediri.
3) Kitab Lubdaka oleh Empu Tan Akung tentang perjalanan seorang pemburu yang berhasil masuk surga.
4) Kitab Wretansacaya oleh Empu Tan Akung.
5) Kitab Kresnayana oleh Empu Triguna.
6) Kitab Sumanasantaka oleh Empu Managuna

Selain karya sastra, peninggalan Kerajaan Kediri lainnya yang dapat dijadikan sumber sejarah berupa berita Tiongkok, prasasti, dan candi.
1) Sumber asing
a. Kronik Tiongkok Ling Wai Tai Ta (11 78 M) menyebutkan Pu Chia Lung yang merupakan nama lain dari Panjalu atau Kediri.
b. Kitab Chi Fan Chi (1 225 M) oleh Chau Ju Kua yang menyebut Su-ki-tan, sebuah kerajaan di Jawa Timur yang sebenarnya adalah Kediri.
2) Prasasti Banjaran (1052 M) tentang cerita kemenangan Panjalu dari Jenggala dan Prasasti Hantang (1052 M) tentang pemerintahan Sri Jayabhaya.

8. Kerajaan Singasari  

a. Lokasi

Kerajaan Singasari terletak di Malang, Jawa Timur. Wilayahnya meliputi bekas wilayah Kerajaan Kediri yang berhasil ditaklukkan Ken Arok tahun 1 222 M. Berdasarkan Prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singasari adalah Tumapel. Singasari adalah nama ibukota kerajaan yang kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel.

b. Kehidupan politik pemerintahan Perkembangan Agama Bagian Tiga

Berikut beberapa raja Singasari.

1. Ken Arok (1222-1227 M)

Beliau lahir dari keluarga petani, la lalu menjadi pegawai Akuwu (Bupati) Tumapel Tunggul Ametung, merebut kekuasaan Tunggul Ametung, dan kemudian mengalahkan Kerajaan Kediri. Kemudian Ken Arok juga menikahi istri dari Tunggul Ametung, Ken Dedes.Dan  Ken Arok menjadi raja pertama Singasari dengan gelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabumi. Ken Arok berhasil membangun Dinasti Rajasa yang melahirkan raja-raja di Pulau Jawa. Ken Arok tewas dibunuh Anusapati, anak dari Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

2. Anusapati (1227-1248 M)

Anusapati naik takhta menggantikan Ken Arok. Pemerintahannya berakhir setelah Tohjaya, putra Ken Arok dengan istrinya yang lain-Ken Umang, membunuhnya. Sebagai penghormatan dirinya, dibuatlah Candi Kidal.

3,. Tohjaya (1248 M)

Pemerintahan Tohjaya berlangsung singkat. Ranggawuni, putra Anusapati, berhasil membalaskan dendam orang tuanya dan merebut takhta kerajaan kembali.

4. Ranggawuni (1248-1268 M)

Setelah naik takhta, Ranggawuni bergelar Sri Jaya Wisnuwardana.

5. Kertanegara Perkembangan Agama Bagian Tiga

Merupakan putra Ranggawuni yang berhasil membawa Singasari ke masa kejayaan. Kertanegara bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Cita-cita terbesarnya adalah menyatukan Nusantara. Adapun langkah-langkah yang ditempuh Kertanegara untuk mewujudkan cita-citanya adalah sebagai berikut.
a. la melancarkan Ekspedisi Pamalayu untuk menaklukkan Kerajaan Melayu (1275 M). Upayanya berhasil, ditandai dengan adanya pengiriman arca Buddha Amogapasha ke Dharmasraya, ibukota Kerajaan Melayu, atas perintah Kertanegara.
b. Menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Campa (Vietnam) untuk mencegah invasi bangsa Mongol. Sejak tahun 1280-1289, Kubilai Khan, penguasa Mongol, telah beberapa kali mengirim utusan ke Singasari, meminta Kertanegara untuk tunduk. Kertanegara menolak, bahkan menghina Kubilai Khan dengan memotong telinga utusan Mongol. Kubilai Khan pun mengirim pasukannya untuk membalas perlakuan Kertanegara.
c. Menaklukkan daerah-daerah sekitar, seperti Sunda, Bali, Pahang, dan Maluku. Baca artikel sebelumnya!

Sistem pemerintahan Singasari sudah mengenal jabatan menteri. Terdapat tiga jabatan menteri utama, yaitu mahamenteri i hino, mahamenteri i halu, dan mahamenteri i sirikan.

Kerajaan Singasari runtuh setelah adanya serangan dari bala tentara Jayakatwang (keturunan Kertajaya, raja Kediri). Kertanegara tewas dalam serangan tersebut. Menantunya, Raden Wijaya, berhasil melarikan diri ke Madura dan meminta perlindungan Aria Wiraraja, bupati Madura. Raden Wijaya pun menyatakan menyerah dan memohon ampun serta ingin mengabdi kepada Jayakatwang. Atas sikap Raden Wijaya, Jayakatwang memberikan sebidang tanah kepadanya di Desa Tarik, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit. Selanjutnya, Singasari berada di bawah kekuasaan Jayakatwang dengan pusat kekuasaan di Kediri.

c. Kehidupan sosial ekonomi Perkembangan Agama Bagian Tiga

Penduduk Singasari terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok bangsawan (raja) yang dianggap sebagai kelas atas dan kelompok rakyat jelata sebagai kelas bawah. Kedua kelompok hidup berdampingan dengan tertib dan teratur.

Penduduk Singasari sudah mengenal sistem pajak dalam bentuk upeti yang dibayarkan kepada raja.

Penduduk Singasari sudah mengenal sistem penanggalan pasaran Jawa.

d. Kehidupan budaya Perkembangan Agama Bagian Tiga

Singasari merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha. Salah satu rajanya, Kertanegara, menganut ajaran Buddha Tantrayana yang merupakan sinkretisme agama Hindu Siwa dan Buddha. Hal ini dibuktikan dengan perwujudan Kertanegara dalam Arca Joko Dolog dan Buddha Amogapasha. Selain itu, Ken Dedes pun diwujudkan dalam arca Dewi Prajnaparamita dan Ken Arok dimakamkan dalam bangunan suci Siwa-Buddha.

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi
Kidal, Candi Jago, Candi Waleri, Candi Singasari, Arca Joko Dolog, dan Arca Dewi Prajnaparamita. Baca artikel sebelumnya!

Perkembangan Agama Bagian Tiga
Perkembangan Agama Bagian Tiga. Arca Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Perkembangan Agama dan Kebudayaan.

Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

A. LAHIRNYA AGAMA HINDU DI INDIA Perkembangan Agama dan Kebudayaan

Agama Hindu lahir di India diawali dengan kedatangan bangsa Arya melalui Celah Khyber (Khybar Pass) pada tahun 2000-1500 SM. Kedatangan bangsa Arya telah mendesak suku bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli daerah tersebut. Mereka disebut anasah artinya pesek dan dasa artinya raksasa karena penampilan fisiknya yang berhidung pesek serta bertubuh pendek dan besar. Perkembangan Agama dan Kebudayaan

Bangsa Arya dan bangsa Dravida menyembah banyak dewa atau politeisme yang merupakan warisan dari masa praaksara. Pertemuan kebudayaan antara kebudayaan bangsa Dravida dan bangsa Arya telah melahirkan sinkretisme—paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham yang berbeda untuk mencari keserasian atau kesinambungan— kebudayaan dalam bentuk agama Hindu. Bangsa Arya tidak ingin terjadi percampuran darah dengan bangsa Dravida. Bangsa Arya pun menciptakan sistem kasta yang membagi-bagi kelompok dalam masyarakat menjadi beberapa golongan, seperti brahmana, kesatria, waisya, dan sudra.

Agama Hindu memuja banyak dewa (politeisme), tetapi terdapat tiga dewa utamanya yang disebut Trimurti, yaitu Brahma Sang Pencipta, Wisnu Sang Pelindung, dan Siwa Sang Perusak. Selain itu, masih banyak dewa-dewa lainnya, seperti Dewa Indra (dewa hujan) dan Dewa Surya (dewa matahari). Selain Trimurti, agama Hindu juga mengenal Tridewi, yaitu Dewi Saraswati, Dewi Sri Laksmi, dan Dewi Durga (Parwati).

Agama Hindu mengenal ajaran tentang karma dan reinkarnasi. Karma dianggap sebagai ganjaran atas setiap perbuatan manusia, perbuatan baik maupun buruk. Ada juga ajaran tentang reinkarnasi, yaitu kelahiran kembali manusia ke dunia sesuai dengan perbuatannya. Apabila selama hidupnya ia banyak berbuat kebaikan, dia akan mendapatkan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, begitu pula sebaliknya.

Kitab suci agama Hindu adalah Weda yang terbagi dalam empat bagian (Caturweda), yakni sebagai berikut.
a. Rigweda berisi pemujaan dalam agama Hindu.
b. Yajurweda berisi pengetahuan suci tentang upacara pengorbanan.
c. Samaweda berisi irama dan lagu-lagu.
d. Atarwaweda berisi pengetahuan suci yang bermanfaat di dunia.

Perkembangan agama Hindu di India terbagi menjadi empat zaman, yaitu zaman Weda, zaman Brahmana, zaman Upanisad, dan zaman Buddha.

a. Zaman Weda (1500 SM)
Fase pertama perkembangan agama Hindu di India. Bangsa Arya mengembangkan agama Hindu di daerah Punjab. Hal ini dibuktikan dengan penemuan patung Dewa Siwa di sisa-sisa reruntuhan Kota Mohenjodaro. Wahyu Weda diturunkan secara bertahap melalui pendengaran (sruti). Mereka yang menerima wahyu Weda disebut maharesi. Masyarakatnya sudah terbagi dalam empat kasta, yaitu brahmana, kesatria, waisya, dan sudra.
b. Zaman Brahmana (1000-750 SM) Perkembangan Agama dan Kebudayaan
Masa ketika kaum brahmana memegang peran penting dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu. Kaum brahmana menyusun berbagai upacara dan doa-doa yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Baca artikel sebelumnya!
c. Zaman Upanisad (750-500 SM)
Pada zaman ini agama Hindu tidak hanya mengajarkan tentang upacara keagamaan saja, tetapi juga falsafah agama Hindu.
d. Zaman Buddha (500 SM-300 M)
Masa ketika agama Buddha mulai berkembang. Sementara itu, agama Hindu juga semakin menyebar luas ke luar wilayah India, termasuk ke Nusantara.

B. LAHIRNYA AGAMA BUDDHA DI INDIA Perkembangan Agama dan Kebudayaan

Agama Buddha lahir di India sekitar abad V SM. Tokohnya adalah Pangeran Siddharta, putra Raja Sudhodana dari Kerajaan Ashoka di Kapilawastu. Pangeran Siddharta dilahirkan tahun 563 SM. la pergi meninggalkan istana dan melihat rakyatnya banyak yang menderita. Akhirnya, Pangeran Siddharta melakukan perjalanan untuk menemukan jawaban atas penderitaan manusia di dunia. Dalam perjalanannya itu, Pangeran Siddharta melakukan semadi di bawah pohon bodhi di Bodh Gaya. Setelah berhasil menemukan pencerahan sempurna, Siddharta yang berhasil menjadi Sang Buddha pada usia 35 tahun mulai melakukan penyebaran ajarannya pertama kali di Sarnath.

Dalam agama Buddha, kebahagiaan di dunia bersifat sementara. Manusia mengalami penderitaan (samsara) karena adanya nafsu, cinta terhadap kehidupan di dunia (tresna). Agar manusia tidak mengalami penderitaan, manusia harus menempuh delapan jalur kebenaran (astawida), yaitu ajaran yang benar, niat yang benar, perkataan yang benar, tingkah laku yang benar, mata pencarian yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, dan semadi yang benar. Manusia akan mengalami kehidupan kembali (reinkarnasi) di dunia sesuai perbuatannya.

Agama Buddha yang berkembang terbagi dalam dua aliran, yaitu Hinayana (kendaraan kecil) dan Mahayana (kendaraan besar). Tujuan utama dalam Buddha Hinayana adalah menjadi arahat (orang yang telah membebaskan diri dari keinginan-keinginan) dan mencapai nirwana dengan usahanya sendiri. Sementara itu, dalam Buddha Mahayana, tujuan utamanya adalah menjadi bodhisatwa (calon Buddha). Dalam mencapai nirwana, manusia dapat saling membantu (kendaraan besar).

Kitab suci agama Buddha dalam bahasa Sanskerta disebut Tripitaka atau dalam bahasa Pali disebut Tipitaka yang berarti tiga keranjang besar. Tripitaka terbagi menjadi tiga, yakni sebagai berikut.
a. Sutta Pitaka yang berisi kumpulan khotbah Sang Buddha.
b. Vinaya Pitaka yang berisi peraturan-peraturan bagi para biksu dan biksuni.
c. Abidharma Pitaka yang berisi filsafat, ilmu pengetahuan tentang tujuan, dan hakikat kehidupan manusia. Baca artikel sebelumnya!

C. PENYEBARAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

Agama Hindu yang lahir di India menyebar luas ke Indonesia melalui beberapa saluran, yakni sebagai berikut.
a. Perdagangan Perkembangan Agama dan Kebudayaan
Saluran perdagangan adalah saluran yang paling efektif dalam menyebarluaskan agama Hindu. Para pedagang India sudah sejak lama melakukan hubungan dagang dengan daerah-daerah lain, termasuk Indonesia. Pada saat berdagang, mereka tidak langsung kembali ke daerah asalnya. Mereka menetap sementara untuk mengisi perbekalan dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Pada saat itulah, penduduk setempat ada yang tertarik dengan agama Hindu sehingga berniat untuk mempelajarinya lebih lanjut.
b. Pernikahan
Pernikahan adalah saluran penyebaran agama Hindu yang cukup efektif. Pada saat para pedagang India berinteraksi dengan penduduk setempat, ternyata ada yang akhirnya menikah dengan penduduk setempat. Mereka yang menikahi para pedagang India akhirnya memilih untuk turut serta menganut agama Hindu.
c. Pendidikan
Penduduk setempat yang tertarik dengan agama Hindu ada yang sampai berlayar ke India untuk mempelajari atau mendalami agama Hindu langsung di daerah asalnya.
d. Peperangan
Terdapat dugaan adanya penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan- kerajaan Hindu di India terhadap penduduk setempat sehingga berkembanglah kerajaan bercorak Hindu di Indonesia.

Menurut para ahli sejarah, terdapat beberapa teori mengenai tokoh pembawa dan penyebar agama Hindu ke Indonesia. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut.

a. Teori Brahmana Perkembangan Agama dan Kebudayaan

Teori brahmana dikemukakan oleh J.C. van Leur. Menurut teori ini, golongan yang menyebarluaskan agama Hindu adalah kaum brahmana. Mereka diundang oleh kepala suku setempat untuk mengajarkan agama Hindu sekaligus melegitimasi kekuasaan raja-raja Nusantara setingkat raja-raja India. Teori brahmana diperkuat oleh peninggalan- peninggalan prasasti kerajaan Hindu yang banyak menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta—merupakan bahasa dalam kitab suci agama Hindu yang hanya dapat dibaca oleh kaum brahmana.

b. Teori Kesatria

Teori kesatria dikemukakan oleh C.C. Berg, Mookerji, dan J.L. Moens. Menurut mereka, agama Hindu disebarluaskan oleh gologan kesatria. Agama Hindu di Indonesia yang berkembang sekitar abad ke IV-V M bertepatan waktunya dengan masa keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu di India. Para anggota bangsawan India itu melarikan diri ke Indonesia dan berhasil menaklukkan kelompok suku setempat hingga akhirnya membangun koloni-koloni. Ada juga yang membantu suku-suku setempat dalam peperangan antarsuku hingga meraih kemenangan. Sebagai balasannya, mereka diperbolehkan menikahi putri kepala suku. Mereka nantinya menjadi pengganti kepala suku dan raja. Akhirnya, berkembanglah kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

c. Teori Waisya Perkembangan Agama dan Kebudayaan

Teori waisya dikemukakan oleh NJ. Krom. Golongan waisya adalah golongan pedagang yang banyak melakukan perdagangan antardaerah, termasuk dengan para pedagang Indonesia. Golongan ini ada yang akhirnya menikahi penduduk setempat. Penduduk yang dinikahinya tersebut kemudian memeluk agama Hindu sehingga berkembanglah agama Hindu di Indonesia.

d. Teori Sudra

Teori sudra dikemukakan oleh van Faber. Menurut teori ini, agama Hindu disebarluaskan oleh golongan sudra. Golongan sudra adalah golongan terbuang yang berlayar ke daerah lainnya untuk mengubah nasib mereka yang kurang beruntung di India.

e. Teori Arus Balik

Teori arus balik dikemukakan oleh F.D.K. Bosch. Menurut teori ini, bangsa Indonesia memiliki peran aktif dalam proses penyebarluasan agama Hindu di Indonesia. Setelah penguasa dan penduduk setempat berinteraksi dengan para pedagang Hindu dan pendeta-pendeta dari India, mereka menjadi tertarik dan mengirimkan perwakilannya ke India untuk mempelajari agama Hindu. Setelah kembali dari belajar, orang-orang Indonesia itulah yang mengajarkan dan menyebarluaskan agama Hindu di Indonesia.

Berbeda dengan agama Hindu, agama Buddha langsung disebarluaskan oleh kelompok biksu/biksuni yang berlayar ke berbagai penjuru dunia. Mereka memiliki kewajiban menyebarluaskan agama Buddha ke seluruh dunia. Penduduk setempat yang tertarik dan ingin mempelajari lebih lanjut agama Buddha banyak yang berangkat ke India untuk memperdalam agama Buddha. Setelah kembali dan menjadi biksu/biksuni, mereka pun turut menyebarluaskan agama Buddha.

Pada sekitar abad V, agama Buddha mulai dikenal di Indonesia. Pada akhir abad VII, l-Tsing, peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatra yang kala itu disebut Swarnabhumi, tepatnya di Kerajaan Sriwijaya, la menemukan agama Buddha diterima luas oleh rakyat, dengan Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran agama Buddha.  Baca artikel sebelumnya!

   D. PERKEMBANGAN KERAJAAN-KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

 Kerajaan Kutai

a. Lokasi.
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri sekitar abad IV M di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Perkembangan Agama dan Kebudayaan.
Perkembangan Agama dan Kebudayaan.

b. Kehidupan politik pemerintahan
1) Kerajaan Kutai didirikan oleh Kudungga yang merupakan kepala suku pribumi setempat Kudungga sebagai raja pertama berhasil mengembangkan kekuasaannya hingga menjadi suatu kerajaan bercorak Hindu. Kudungga telah mengubah sistem pemerintahan Kutai dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem pemerintahan kerajaan yang bersifat turun-temurun.
2) Selain Kudungga, raja Kutai yang cukup terkenal adalah Aswawarman yang dianggap sebagai titisan Dewa Matahari Ansuman. Aswawarman adalah putra Kudungga dan merupakan pendiri dinasti Kerajaan Kutai atau wangsakerta. Jika pada masa Kudungga agama Hindu baru masuk, pada masa Aswawarman agama Hindu sudah berkembang. Aswawarman sendiri dianggap sebagai raja yang sudah menganut agama Hindu.
3) Raja terkenal dari Kerajaan Kutai lainnya adalah Mulawarman. la dianggap paling berjasa dalam membawa kemakmuran bagi masyarakat Kerajaan Kutai. Mulawarman adalah anak dari Aswawarman. Pada masa pemerintahannya, terjalin hubungan yang baik antara pemerintah dan kaum brahmana. Hal ini ditandai dengan diberikannya sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana oleh Raja Mulawarman.

c. Kehidupan sosial ekonomi
1) Berdasarkan prasasti peninggalannya, masyarakat Kerajaan Kutai diketahui telah hidup dengan tertib dan teratur. Hubungan antarkasta dalam masyarakatnya berlangsung baik. Kaum brahmana memiliki kedudukan yang terhormat karena bertugas sebagai pemimpin dalam upacara penghinduan vratyastoma (penyucian diri).
2) Kerajaan Kutai memiliki posisi geografis yang strategis sehingga perdagangan di wilayah ini sangat ramai. Banyak penduduk Kutai yang bermata pencarian sebagai nelayan. Selain itu, untuk menunjang kegiatan perdagangan, penduduk setempat juga mengembangkan pertanian. Hasil pertanian menjadi salah satu komoditas perdagangan.

d. Kehidupan budaya

1) Penduduk Kerajaan Kutai menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar sehari-hari. Adapun kaum brahmana mengenal bahasa Sanskerta.
2) Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu Siwa. Hal ini dibuktikan dengan adanya tempat suci waprakeswara yang merupakan tempat pemujaan kepada Dewa Siwa. Di Pulau Jawa, ditemukan pula tempat suci pemujaan Dewa Siwa yang disebut baprakeswara.
3) Peninggalan Kerajaan Kutai yang terkenal adalah tujuh yupa (tugu batu) yang ditulis menggunakan bahasa Sanskerta berhuruf Pallawa. Yupa-yupa tersebut menceritakan upacara penghormatan yang dilakukan Raja Mulawarman untuk kaum brahmana dengan memberikan pengorbanan 20.000 ekor sapi.

e. Runtuhnya Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai runtuh setelah Maharaja Darma Setia tewas dalam peperangan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara (bercorak Islam) yang dipimpin oleh Raja Aji Pangeran Anom Panji sekitar abad XIII. Selanjutnya, Kerajaan Kutai ini menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara. Baca artikel sebelumnya!

error: Content is protected !!
Open chat
Butuh bantuan?
Halo
Ada yang bisa dibantu?